in

Anekdot Secangkir Kopi

Hujan renyai -renyai mengetuk jendela langit memecah kesunyian malam. Secangkir kopi pekat aku hirup perlahan-lahan. Menghadap laptop ditemani kesunyian malam. Masih lagi aku berzikir kepada Ilahi memohon ketenangan hati agar dikuatkan diri mendepani hari yang mendatang .Jika aku memikirkan lelah dengan dugaan dunia maka masih ada lagi insan yang mungkin pada hari ini menghadapi dugaan lebih hebat.

Aroma kopi sungguh harum memikat terimbau kenangan apabila Kopi Cap Gantang menemani masa kecilku bersama alunan angin bendang sawah yang mendamaikan jiwa. Aroma kopi itu aku hirup secangkir ketenangan, Membina keyakinan diri dibalik ragam manusia . Alhamduilah, sering saja aku pasakkan dalam dadaku menjadi wanita itu harus kuat, matang dan tidak mengalah pada keadaan.

Masih lagi aku menghadap laptop merehatkan diri sebentar daripada lelah kerja dunia. Masih aku ingat bersama secangkir kopi lah Tok Kiah menitipkan pesan kepadaku .

“Jadi seorang wanita harusnya kuat. Bisa mandiri bisa teguh berpendirian.

Ya itu ingatan masa kecilku. 

“Jangan takut jatuh kerana yang tidak pernah  memanjatlah tidak pernah jatuh”

Buya Hamka 

Maka, kini aku bangkit daripada kekalahan demi kekalahan ditemani hitam dan putihnya warna kopi. Aku hanya manusia , manusia yang lemah adakalanya bisa menjadi putih dan adakalanya bisa menjadi hitam. Tetapi kopi itu sama ada hitam atau putih tetap terus manis mengharum. 

Aku bertanya kepada diriku sendiri masih wujudkah dendam dalam hatiku. Warnanya hitam atau putih?

Acoffee a day keeps a grumpty away.”

Secangkir kopi mampu menghilangkan lelah dan membina gembira di jiwa tidak kira di café hipster atau secara tradisi bersama biskut tawar atau bersama sehiris kek Red Velvet di pinggan.

Wacana gembira harus dinukilkan. Meski ada bait-bait semalam yang masih berbekas dihati .Namun, ambilah prinsip secangkir kopi sentiasa berwatak manis .Hilangkan gundah dan pamerkan yang indah kerana duka kita biarlah hanya Allah swt yang tahu, tidak perlu diceritakan kepada manusia. 

Without coffee something missing”

Al Pacino

Sesungguhnya kita menyedari bahawa bukan melalui secangkir kopi, adakalanya kita mula mengenal dan bercerita. Membangunkan sosok kecerdasan manusia. Membangkitkan mood dan menghindari gundah di jiwa. Kita manusia adakalanya leka jatuh dalam perasaan dan emosi sendiri. Ikutlah prinsip secangkir kopi, makin pahit kopi makin manis bila dicampur susu dan gula. Hilangkan yang pahit jelmakan yang manis.

Nukilan,

Nur Izzati Hazwani

Dr. MAZA Cerminan HAMKA?

Sikap Suka Menakut-nakutkan di Kalangan Peribumi