Home Artikel Resensi Buku Surat Untuk Ibu Kartini

Surat Untuk Ibu Kartini

Tidak Ibu. Keadaan terpenjara, kaku dalam hubungan anak ibu, ia bukanlah satu hal yang pantas berlaku hatta ke atas mana-mana manusia. Kami berkesempatan menyinggah di ruang pingitan penjara bebasmu. Aku sengaja duduk di atas katilmu – berusaha memahami keadaan dahulu.

Ya. Memang dulunya kau terpenjara. Tetapi atas besarnya jiwa raga, akhirnya kau pula yang membebaskan manusia.


Pintu Bilik Pingitanmu nyata tinggi dan masih kukuh. Jujurnya aku sendiri takut ketika berdepannya tadi. Jendelanya tampak kuat, warnanya pucat sepucat 4 tahun kusam kau dikurung di dalamnya.


Menjengah ke ruangan kecil itu, yang paling menarik sekali pastilah meja kerjamu – tempat kau menumpahkan rasa – gembira baik duka pada teman-teman persuratan meski tidak pernah berjumpa.


Untuk Ibu tahu, aku juga penulis sepertimu. Kita berkongsi citra yang sama bahawa penulisan dan pendidikan ialah alat pembebasan. Aku membaca surat-suratmu, Ibu. Ia sarat dengan emosi, turun naiknya perasaan, persembahan dukacita hiba dan kebimbangan. 


Orang zaman aku selalu menyalahkan kalau perempuan itu sekadar terisi dengan perasaan dan mereka itu membawa perasaan dalam setiap sela kehidupan.


Tapi Ibu, aku sekalipun tak pernah berduka menerima kenyataan tersebut. Tidaklah aku cuba hendak menyamaratakan keadaan aku dengan perempuan lain. Cuma tidak ada yang salah langsung menjadi manusia kaya emosi ketika orang lain tidak langsung hendak mempeduli.


Ibu.. Penjarakkan kau dengan ibu kandungmu Yuk Ngasirah, aku tanggapi dengan jutaan penyesalan dan kedukaan. Tak pernah aku inginkan agar Tuhan menjauhkan aku dengan Emak. Kecil dulu, meskipun aku tak selalu bersama Emak, sekurang-kurangnya aku tidak pernah dihalang untuk mendekatinya di masa apa pun.


Rasa sakit boleh terbangkit walau Emak cuma menyapu-nyapu lembut tangannya di tempat tersebut, belakang badan misalnya. Rasa takut boleh terangkut ketika Emak sudi meminjamkan bahu dan dadanya memelukku sekejap walau tanpa mengeluarkan sepatah kata pujukan.


Sebenarnya kuasa apa yang diberikan Tuhan kepada Emak dan para ibu? Tangan mereka begitu ajaib. Menyejukkan saat kepanasan, meneduhkan di saat hujan.


Kita bisa gila Ibu, seandainya Emak di depan mata tetapi kita pula cuma boleh mengintai dari jendela penjara. Penjara adat. Adat busuk yang sampai sanggup menarik kedekatan hubungan ibu dengan anak.


Kita bisa jadi bisu jika dialog sehari-harian bersama Abah dipaksa menjadi baku dan kaku. Adat apakah yang menghalang seorang anak bangsawan-priyayi untuk melepaskan rasa terhadap ayah-romo-nya sendiri? 
Perhubungan yang bisu dan kaku ini, cuma melahirkan anak yang berhati batu. Di masa depannya, dia cuma mahu bekerja, tetapi bukan menikmati kehidupan.


Kalau Ibu masih hidup hari ini, molek rasanya Ibu singgah membaca jurnal dan kajian bagaimana hubungan keibubapan yang kaku memberi kesan buruk terhadap psilologi anak-anak.


Tidak apalah Ibu, aku bukan hendak menyalahkan ibu ayahmu. Mereka mencintaimu dan engkau lebih lagi mencintai mereka. Yang hendak kita bincangkan di sini ialah adat busuk yang memusnahkan kemanusiaan dan kasih sayang.


Aku ke pantai dulu, Ibu. Cuma mahu menikmati tenggelamnya matahari dan mensabatkan kalau kita punya Tuhan Ar Rabbi – yang menaik dan menenggelamkam siapa yang dimahu-Nya.


Sepertimu, alam juga sudi menjadi sahabat dan teman baikku. Sampai ketemu lagi di, Bu.


Panggil Aku,


Wafi

28 Oktober 2018

Pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah
#jejakkartini #kembarajejaktarbiah

Mengenang Kartini sempena hari kelahiran beliau 21 April 1879.

Beliau meninggal dunia pada 17 September 1904.

Share:

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *