WIDA’

Tiba juga sudahnya
Waktu yang tidak ditunggu
Tujuh kitaran perpisahan
Dua rakaat sunat
Seperangkat munajat yang tersendat-sendat
Diganggu kelu, diharu pilu.
Mampuku hanya mengadu lewat sedu
Biarlah air mata menjadi jurubicara
Mengganti ucap yang tak terungkap
Mewakili kata yang tak terkata
Menyuara rasa yang tak tersuara
Aku percaya dengan bahasa air mata
Yang sepetah pujangga, sefasih pendeta
Aku pasrah dalam resah muhasabah
Ya Rabbana taqabbal minna manasikana
Tuhan Yang Maha Sempurna
Maha Penyempurna

Berkenan kiranya
Menerima amal hamba yang tak pernah sempurna.
Semua harus tahu
Begitu yang namanya tamu
Datang dialu pulang direstu.
Aku rela dalam hiba
Tetapi masih ada pinta yang tersisa
Wahai Yang Maha Pengasih
Aku ingin kembali bersih
Sesuci bayi, seputih salji
Aku pulang dulu kiblatku
Bisikku dalam lambai sayu
Amin ya Mujiba s-sa’ilin
Wa ya Arhama ‘r-Rahimin.


Nukilan,

Almarhum al fadhil Ustaz Prof Dato’ Dr Siddiq Fadzil,
daripada buku kompilasi sajak beliau yang beliau tulis ketika di Tanah Suci Mekah Sebuah Antologi Puisi Kesan dan Pesan dari Al-Haramayn diterbitkan 2015 oleh Akademi Kajian Ketamadunan, Kolej Dar al-Hikmah.

***

Bicara Merdeka Seorang Guru Tua

Lima dasawarsa yang lalu
aku, anak desa yang dungu serba tak tahu
hanya ikut-ikutan melulu
memekik “Merdeka! Hidup Tunku!” bertalu-talu.
Hingga tiba ketika aku berani bertanya
ruh dan makna sepatah kata,
meminta bukti nyata
sebuah cerita
“Merdeka”.
Kutadah segala madah
Kuperah khazanah hikmah
Kutemukan daulat karamah insaniyah
Mulia perkasa dengan al-‘izzah.
Merdeka siapa cuma mengenyah penjajah
Merdekaku meraih ‘izzah
Deklarasi syahadah: la ilaha illa ’Llah
menyanggah berhala seribu wajah
mengenyah segala bedebah penjajah, penjarah, penjenayah.
Kubongkar pendaman fakta
Kubuka kitab pusaka

Terserlah deretan nama
Wira merdeka bukan Tunku sahaja
Ramai yang mendahuluinya.
Mendadak aku bertanya
sejarah bikinan siapa?
Merdekakah kita,
julingkah mata sarjana
apabila tidak bersuara
tentang pahlawan tak dikenang
wira tak didendang?
Lima dasawarsa lamanya
banyak kata belum terkota

banyak lagi rupa tak seindah berita.
Bagi generasi yang semakin tak mengerti
kata merdeka bak mantra yang hilang sakti
dan mereka semakin tak peduli.
Jiwa merdeka sirna ditelan pesta
Matilah rasa hilanglah peka
betapapun gegak gempitanya
pekikan Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Tetapi semerta terbelalak mata
bila setan korupsi menggoda,
“Mau duit ka? Mau duit ka? Mau duit ka?”
Gejala pesona yang kian menggila
menginjak taqwa menganjak jiwa
merdeka dengan Ketuhanan Yang Maha Esa
menjadi hamba kewangan yang “maha berkuasa”.
Pada Hari Merdeka yang ceria
kusimpan tangis di balik tawa
kupendam cemas di tengah pesta.
Akan terjualkah merdeka kita?

Nukilan,

Siddiq Fadzil
KDH: 31 Ogos 2007
Dikutip dari Buku Siddiq Fadzil, Mensyukuri Nikmat Menginsafi Amanat Sempena 50 Merdeka (Kajang: Wadah & Akademi Kajian Ketamadunan, 2007).

Leave your vote

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

I agree to these terms.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.