in

LoveLove

Pedagogi Pendidikan Perempuan Menurut Kartini

“Oh, sekarang saya mengerti mengapa orang tidak setuju dengan kemajuan Jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiyakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan kepadanya oleh atasannya.”

Kartini menulis dalam suratnya kepada E.H. Zeehandelaar pada 12 Januari 1900. Siapa yang tidak kenal dengan sosok ‘Satrio Piningit’ ini? Pada 21 April 1879, lahirlah seorang bayi perempuan ini yang akhirnya tumbuh sebagai mentari buat bangsanya; Raden Adjeng Kartini.

Kartini tumbuh dalam lingkungan keluarga bangsawan. Ayahnya, R.M Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bangsawan yang memegang jawatan tinggi di Jepara, manakala ibunya M.A. Ngasirah hanyalah daripada kalangan rakyat biasa.

Kartini sangat membenci feudalisme! Pada usia dini, Kartini telah menyaksikan sendiri bagaimana feudalisme telah merobek hubungan ayah dan ibunya sendiri. Oleh kerana ibunya hanyalah daripada kalangan rakyat biasa, ibunya terpaksa merelakan suaminya berkahwin dengan wanita lain daripada kalangan bangsawan. Akhirnya, ibunya tidak mampu mengasuh Kartini.

Perempuan diperlakukan dengan sangat rendah dan hina. Keadaan inilah yang telah menyemarakkan lagi api kebencian Kartini terhadap feudalisme. Kartini hanya bersekolah sehingga usia 12 setengah tahun dan terpaksa berhenti kerana harus menjalani tempoh ‘pingitan’ (kurungan) yang sudah menjadi tradisi kaum priyayi. Semasa menjalani tempoh ini, Kartini tidak dibenarkan keluar rumah dan bersosial dengan masyarakat luar. Demikian ini surat Kartini semasa dalam tempoh pingitan kepada Nyonya R.M Abendanon-Mandri, pada Ogos 1900;

“Tibalah waktunya untuk meninggalkan hidup kanak-kanaknya. Ia harus meminta diri dari bangku sekolah, tempat duduk yang disukainya. Ia harus pamit dari teman-temannya bangsa Eropa, padahal ia senang sekali berada di tengah-tengah mereka. Ia dipandang cukup dewasa untuk pulang dan tunduk kepada adat isitiadat negerinya yang memerintahkan para perempuan muda untuk tinggal di rumah, duduk benar-benar terasing dari dunia luar sampai tiba saatnya datang laki-laki yang diciptakan Tuhan bagi mereka dan membawanya pulang.”

Tempoh pingitan itu dimanfaatkannya dengan membaca buku-buku yang dibelikan oleh ayahnya. Kartini mendapat pengaruh daripada bacaannya melalui karya Multatuli; Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta. Karya Louis Coperus; De Stille Kraacht. Karya-karya roman feminisme Goekoop de Jong Van Beek dan roman anti-perang karya Berta Von Suttner; Waffen Nieder dan Moderne Maagden yang memberikan kesan yang mendalam terhadap pemikiran Kartini. Tambahan pula, Kartini juga menelaah surat khabar De Locomotief dan majalah perempuan De Hollandsche Lelie. Kartini juga kerap memuatkan tulisannya dalam media tersebut.

Melalui tulisan-tulisannya di majalah dan surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mula mendapat perhatian orang Belanda. Diringkaskan cerita, Kartini telah ditawarkan biasiswa untuk melanjutkan pengajiannya ke Belanda. Awalnya, Kartini begitu bersemangat dengan tawaran ini, namun hasratnya terpaksa dibatalkan kerana helah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggunakan Abdendanon untuk memujuk Kartini supaya terus menetap di Indonesia.

Tambahan pula, situasi ayahnya yang sedang sakit turut memburukkan keadaan. Maka, Kartini terpaksa berkahwin dengan Bupati Rembang pada 8 November 1903 demi memenuhi permintaan ayahnya yang sedang sakit padahal Bupati itu sudah memiliki tujuh anak dan dua isteri.

Kartini sangat ‘alergi’ terhadap budaya feudalisme yang membungkus bangsanya. Kartini melihat ketidakadilan apabila kaum perempuan hanya dibenarkan bersekolah sehingga peringkat sekolah rendah sahaja.

Isi surat Kartini kepada E.H Zeehandelaar pada 18 Ogos 1899;

“Perasaan kami sendiri harus mengatakan kepada kami sejauh mana cita-cita ingin bebas boleh bergerak. Sungguh keterlaluan tata krama orang Jawa.”

Perempuan juga dilakukan dengan sangat rendah, seperti terpaksa menuruti budaya nikah paksa dan poligami tanpa persetujuannya. Oleh itu, Kartini bercita-cita untuk mendidik kaum perempuan di Jepara.

“Telah lama dan telah banyak saya memikirkan perkara pendidikan, terutama di akhir-akhir ini. Saya pandang pendidikan itu sebagai kewajiban dan demikian mulia dan suci sehingga saya pandang suatu kejahatan apabila tanpa kecakapan yang sempurna saya berani menyerahkan tenaga untuk perkara pendidikan. Sebelumnya saya harus dibuktikan, apakah saya mampu menjadi pendidik. Bagai saya pendidikan itu merupakan pembentukan budi dan jiwa.”

Surat Kartini kepada E.H Zeehandelaar, 9 Januari 1901

Kekuatan Kartini dilihat dalam kebijaksanaan, kepekaan dan keprihatinannya terhadap persoalan yang menghambat bangsanya. Meskipun Kartini dari keturunan bangsawan, tapi ia tidak sombong dan tertutup daripada lingkungannya.

Kartini percaya, untuk mewujudkan suatu peradaban maka ia hendaklah dimulakan dengan memberikan pendidikan buat peribuminya.

Oleh sebab itulah Kartini memulakan mendidik bangsanya secara sederhana iaitu dengan mendidik perempuan-perempuan dari kalangan bangsawan dahulu.

Kenapa dari kalangan bangsawan sahaja? Tidakkah ia akan menimbulkan rasa iri terhadap rakyat biasa?

Sebenarnya, ini semua adalah strategi bijak Kartini dan jauh sekali dengan niat mendiskriminasi. Pertama, Kartini melihat perempuan-perempuan bangsawan perlu dididik terlebih dahulu supaya mereka menjadi ikutan kepada perempuan-perempuan dari rakyat biasa.

Pada masa tersebut, rakyat biasa sangat menghormati golongan bangsawannya. Maka, jika perempuan bangsawan mendapat pendidikan, sudah pasti mereka akan dicontohi oleh rakyat biasa atau masyarakat kelas bawah secara tidak langsung.

Keduanya, pada masa tersebut penjajah masih bersikap pilih kasih untuk memberikan akses pendidikan terhadap rakyat biasa. Belanda risau dengan pendidikan, ia akan menjejaskan misinya untuk terus menjarah Indonesia.

Selepas mendirikan sekolah pertama di Jepara, Kartini telah menubuhkan sekolah keduanya di Rembang. Meskipun sibuk dalam urusan rumah tangganya, Kartini tetap menuang sepenuh tenaganya untuk mendidik kaum perempuan bangsanya. Dalam satu suratnya kepada R.M Abdendanon-Mandri pada 21 Januari 1901, Kartini menulis;

“Dari perempuanlah manusia pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan perempuanlah seseorang mulai belajar merasa, berfikir dan berkata-kata. Dan makin lama makin jelaslah bagi saya, bahwa pendidikan mula-mula itu bukan tanpa arti bagi seluruh kehidupan. Dan bagaimanakah ibu-ibu Bumiputra dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak berpendidikan?”

Kartini tidak memaknai pendidikan itu secara sempit. Baginya, selain pendidikan untuk mencerdaskan otak (kognitif) dan adab atau ilmu kerohanian (afektif), Kartini juga mementingkan aspek keterampilan (psikomotor).

Kartini mengajarkan pendidikan keterampilan seperti menjahit, membatik dan sebagainya kepada perempuan peribumi. Kartini melihat kekurangan ilmu keterampilan ini menyebabkan kaum perempuan hanya bergantung hidup kepada lelaki. Maka, dengan ilmu dan pendidikan keterampilan ini kaum perempuan bangsanya boleh hidup secara mandiri.

Antara subjek-subjek yang diterapkan oleh Kartini ialah matematik, fizik, kimia dan biologi. Di samping itu, pendidikan keteladanan dan pendidikan agama turut diterapkan untuk memenuhi aspek afektif.

Menariknya pedagogi Kartini kerana sistem yang diterapkannya adalah berbentuk ‘demokratik’. Maksudnya, guru akan membuka forum atau dialog untuk merangsang gagasan-gagasan anak didiknya. Tidak hanya berpusatkan guru, suasana pembelajaran dalam ruang kuliah hendaklah terarah kepada kebebasan mengekspresi.

Akhir sekali, Kartini sangat menitikberatkan suasana belajar yang sensitif gender. Kartini ingin mewujudkan keberanian dalam anak-anak didiknya supaya melibatkan diri dan merebut apa sahaja peluang serta menuntut hak yang sama dengan kaum lelaki.

Peluang dan peranan yang selama ini dipikul oleh kaum lelaki hendaklah sama diberikan ke atas kaum perempuan. Sekiranya kaum lelaki boleh melanjutkan pengajian sehingga tingkat tertinggi, maka kaum perempuan pun hendaklah memiliki peluang yang sama juga. Begitu pula dalam konteks sosial, perempuan dan lelaki hendaklah disetarakan kedudukannya.

“Sudah pastilah, bahwa dunia Pribumi akan menentang aku. Orang akan menganggap aku gila. Namun gagasan itu indah.”

Surat Kartini kepada Abendanon, 31 Disember 1901

Disediakan oleh,

Ilham Yusuf


Rujukan:

Mukhrizal Arif. (2014). Pendidikan Posmodernisme: Telaah Kritis Pemikiran Tokoh Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Pramoedya Ananta Toer. (2009). Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta Timur: Lentera Dipantara.

Menyingkap Misteri Sulur Bidar

“Saya Tidak Pernah Tahu Malaysia Wujud.”