Home Artikel Falsafah Apakah Hidup Itu? - HAMKA

Apakah Hidup Itu? – HAMKA

“… Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki…”

(Al-Baqarah: 255)

Ilmu pengetahuan manusia sudah semakin maju dan dapat dibanggakan. Terutama pada dua abad terakhir ini kemajuan ilmu fisika yang sangat mengagumkan sehingga jika ditakdirkan nenek moyang kita yang hidup tiga atau empat abad lalu, keluar dari dalam kuburnya, sekali lintas ia akan mengatakan bahwa umat manusia masa sekarang ini adalah jin, bukan manusia lagi.

Ilmu pengubatan dan pembedahan sudah sangat maju. Ubat-ubat yang baru dan mujarab khasiatnya. Penicillin misalnya, banyak menolong mengurangi rasa sakit pada manusia.

Alat dan teknik, mesin dan jentera pendapat baru, membuat manusia abad sekarang menjadi bangga, seakan-akan manusia telah menaklukkan alam. Tetapi dapatkah sarjana sepintar apa pun menciptakan nyawa? Dapatkah mereka menjawab jika ditanyakan, “Apakah hidup itu? Dari mana datangnya dan bagaimana kesudahannya?’

Dengan cepat orang dapat memberikan jawab bahwa segala yang hidup, baik tumbuh-tumbuhan, binatang, maupun manusia merupakan susunan sel. Setiap sel merupakan susunan kimia dari karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Jika anasir (unsur) telah tersusun menurut penggenapan tertentu, terciptalah sel.

Baiklah! Susunlah segala anasir itu menurut ukuran yang tertentu. Namun, para ilmuwan itu tak juga dapat memberikan kehidupan.

Allah SWT mengambil contoh di dalam Al-Qur’an tentang binatang kecil saja dan dirasa tidak penting, iaitu lalat!

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.”

(Al-Hajj: 33)

Mulai dari yang kecil hingga besar, semuanya tersusun dari karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Namun, ilmuwan yang katanya mengetahui itu hanya sekadar dapat mengetahui yang ada, tetapi mereka tidak sanggup memberinya hidup. Tidak akan sanggup seorang pun manusia mengupas hidup ini, mencari pangkalnya, dan menurut hujungnya. Kesanggupan manusia hanya sekeliling benda. Di antara anasir benda dengan anasir hidup, terdapatlah jurang yang sangat dalam, yang tidak dapat diseberang lagi oleh ilmu.

Mahu tidak mahu, sesampai di sana manusia terpaksa tunduk. Setinggi-tinggi akal hanya dapat mengetahui khasiat barang yang ada, tetapi tak sanggup menciptakan. Sekali lagi keluarlah dari mulut menyebut Allah.

Apabila ucapan Allah sudah keluar dari mulut, hal itu sudah meliputi kepada segala yang difikirkan itu.

Beribu filsuf, beribu sarjana, membanting fikiran untuk merenung dan menyelidiki, mencari tahu siapa Dia?

Maka datanglah 124,000 nabi dan rasul. Utusan dari yang memegang dan menciptakan segala rahsia itu, menyampaikan jawaban kepada seluruh manusia. Dengan lidah mereka sampaikan.

“Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku.”

(Thaha: 14)

Yang tetap kelihatan ialah perubahan. Perubahan itulah ketetapan alam ini. Daratan dan lautan berubah. Gunung dan bukit, bahkan Gunung Himalaya yang terkenal pun senantiasa berubah. Himalaya yang sekarang bukanlah Himalaya yang kelmarin dan yang nanti pun bukan lagi yang sekarang.

Ilmu geologi telah dapat mengetahui peraturan yang tetap dalam alam ialah berubah. Bumi ini sendiripun, melalui lebih dahulu perubahan-perubahan, beribu-ribu bahkan jutaan tahun, baru mencapai bentuk yang sekarang dan keadaan yang sekarang.

Mazhar (kesan) yang dipermainkan oleh air, sejak dari hujan, sungai, sampai kepada lautan, sampai air itu naik lagi ke udara; gerak yang hebat seperti gempa bumi karena tanah runtuh di dalam perut bumi atau karena letusan gunung berapi. Ini tenaga yang dinamai ‘tarik-menarik’ atau dinamai ‘listrik’ (letrik) semuanya dicari ‘sebab akibat’nya oleh ilmuwan sarjana. Illat ditafsirkan dengan illat yang lain. Sebab mengapa bisa begitu dicari pula sebabnya. Namun, akhirnya dari perjalanan mengumpulkan sebab dan akibat, meski tertumbuk kepada pertanyaan yang tidak dapat dijawab lagi.

Kita berdiri di tepi laut. Kita lihat ombak bergulung. Lalu kita bertanya,

‘Mengapa ombak itu bergulung?’

‘Karena udara!’

‘Mengapa udara bergerak?’

‘Karena hawa panas!’

‘Dari mana datangnya panas itu?’

‘Dari Matahari?’

‘Siapa yang meletakkan panas pada Matahari?’

….. Diam!

 

Petikan daripada sebahagian bab dalam buku Falsafah Ketuhanan karya Hamka.

Share:

You may also like

Leave a Reply

Copy link